Sesungguhnya Umat Islam telah diajarkan semenjak kecil dengan syair dan nyanyian yang indah seperti lantunan adzan di masjid-masjid dan bacaan Al-Quran.
Ketika menidurkan dan menimang anaknya umat Islam sering bersyair dan bernyanyi pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah, ‘Ya Rabbi yanam, Ya Rabbi yanaam’.
Ketika dalam keadaan bahagia, misalnya panen para petani juga bernyanyi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
Ketika bekerja keras dan mengangkat bahan bangunan yang berat umat Islam sering bernyanyi bersamaan untuk mengurangi beban berat, ‘Haila, Haila’.
Al-Mawaawil, alat music yang dipakai umat Islam untuk menghibur diri sendiri dan didengarkan dalam perkumpulan yang membicarakan tentang cinta, persahabatan, dan tentang dunia.
Diantara syair-syair itu juga berisikan perjuangan umat Islam yang sering diperdengarkan dan diulang-ulang di masyarakat, misalnya, Adham asy-Syarqawi, Syafiqah, Mutawalli, Ayyub al-Mishri, Sa’ad al-Yatim, dan Abu Zaid al-Hilali.
Disetiap bulan Ramadhan umat Islam menggunakan genderang untuk membangunkan sahur, dan saat takbiran menyambut hari raya.
Dalam upacara memanggil jin atau kekuatan gaib dalam kitab Iqd al-Farid, dimana nabi Daud AS memainkan mi’zaf alat music serupa harpa untuk menyaingi dukun-dukun Yahudi dalam menguasai alam gaib melalui music dan nyanyian, pemain musiknya disebut ‘azzaf.
Musik diterima dalam Islam disebut Handasah al-Sawt ialah seni yang dipandang sebagai pernyataan estetika yang bersumber dari tradisi Islam.
Handasah dalam sudut pandang sosiologi tiap Negara berbeda-beda, seperti kasidah di Indonesia, Ghazal di Iran, Nefes Sugul di Turki, Muwashshah Dini di Maroko, Nasyid Marawis di Asia Tenggara.
Handasah yang tunduk pada estetika Al-Quran seperti Tilawah dan Qira’ah.
Handasah yang berkaitan dengan seruan shalat dan ibadah, seperti adzan, tahmid, takbir.
Handasah yang berkaitan dengan pujian kepada Rasullulah seperti Kasidah Burdah, Kasidah Barzanji, Rampai Maulid.
Handasah yang berperanan dalam penyebaran agama Islam yaitu Shalawat Badar, Hikayat Perang Sabil. Penyebaran agama Islam di Jawa dengan menggunakan gending Jawa dengan gamelan sebagai instrumennya, dan wayang Jawa sebagai tokoh yang dapat diterima sangat mudah dikebudayaan Jawa disaat itu.
Musik adalah tajjarud, yang membebaskan jiwa dan perasaan, menyentuh kesedihan, kesenduan, dapat juga membangkitkan jiwa, membangkitkan rasa cinta dan kasih sayang, mengenang masa lalu, hal tersebut tidak dilarang dalam Islam, sehingga dalam ibadah wajibnya kita dapat menemukan kerileksan dan menemukan kebahagian sejati didalam hati, dan menemukan keindahan Allah SWT dalam ketenangan jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar