Jumat, 14 Mei 2010

TASAUF JAWA DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA ISLAM DI JAWA

Konsultan sosial ekonomi : Nurcahyo Juniarso.
 

Penyebaran agama Islam sangat berkembang baik di pulau Jawa, walau awal masuknya melalui Malaka, yaitu Aceh yang disebut juga ‘Serambi Mekah’. Namun dalam perjalanannya penyebaran agama Islam berkembang baik di pulau Jawa, terutama adanya wali songo.

Keunikan kepribadian orang-orang Jawa yang mampu menerima pendatang asing terutama para pedagang penyebar agama Islam, sehingga Islam mempunyai karakter tersendiri di pulau Jawa ini. Sifat orang Jawa yang seakan ‘nrimo’ , lugu, ramah, dan sopan, menjadikan Islam menjadi lebih lembut, dan dalam Islam di Jawa terdapat pengertian ‘MANUNGGALING KAWULA GUSTI’.

Kepasarahan dan ketidak beradaan manusia di alam fana ini meleburkan raga yang berat dan kotor ke dalam roh atau jiwa yang bersih.Penyesalan yang sangat karena dosa-dosa menciptakan tuntunan menyeluruh Allah seutuhnya, atas kepemilikan raga manusia tak terkecuali, inilah yang di sebut ‘Manunggaling’.

Ketidak berdayaan manusia akan kehendak, senantiasa meminta pertolongan Allah dalam peleburan diri dengan zat suci Allah di sebut ‘AKU’.

Ajaran pertama tentang zat dan singgasana Tuhan menjadi delapan bagian yaitu :
1. Adanya zat. Kekosongan alam ini yang ada hanya satu, ke-AKU-an Allah SWT.

2. Kejadian zat. Adanya zat kekal sebelum adanya manusia, hingga manusia terlahirkan ke dunia, sampai kematian, zat itu kekal.

3. Uraian tentang zat.

4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala Adam itu ada otak, dalam otak itu ada manic, dalam manic ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku.

5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram. Tempat itu berada di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati itu ada jantung, di dalam jantung ada budi, di dalam budi ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku.

6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas. Berada dalam kontol Adam, dalam kontol itu ada pringsilan (buah pelir), di dalam pringsilan itu ada nuthfah (mani), dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahsa, dalam rahsa itu ada Aku.

7. Peneguh Iman. Yaitu menjadi kekuatan iman.Yang berisikan Shahadat, pengakuan kerasulan Muhammad SAW, sebagai Nur Muhammad.

8. Kesaksian. Pada tingkat ini terjadi penyatuan raga dan roh, pengakuan terhadap roh yang berasal dari zat suci Allah.

Sabtu, 08 Mei 2010

TERAPI MUSIK BAGI UMAT ISLAM

Sesungguhnya Umat Islam telah diajarkan semenjak kecil dengan syair dan nyanyian yang indah seperti lantunan adzan di masjid-masjid dan bacaan Al-Quran.
Ketika menidurkan dan menimang anaknya umat Islam sering bersyair dan bernyanyi pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah, ‘Ya Rabbi yanam, Ya Rabbi yanaam’.
Ketika dalam keadaan bahagia, misalnya panen para petani juga bernyanyi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.

Ketika bekerja keras dan mengangkat bahan bangunan yang berat umat Islam sering bernyanyi bersamaan untuk mengurangi beban berat, ‘Haila, Haila’.
Al-Mawaawil, alat music yang dipakai umat Islam untuk menghibur diri sendiri dan didengarkan dalam perkumpulan yang membicarakan tentang cinta, persahabatan, dan tentang dunia.

Diantara syair-syair itu juga berisikan perjuangan umat Islam yang sering diperdengarkan dan diulang-ulang di masyarakat, misalnya, Adham asy-Syarqawi, Syafiqah, Mutawalli, Ayyub al-Mishri, Sa’ad al-Yatim, dan Abu Zaid al-Hilali.

Disetiap bulan Ramadhan umat Islam menggunakan genderang untuk membangunkan sahur, dan saat takbiran menyambut hari raya.

Dalam upacara memanggil jin atau kekuatan gaib dalam kitab Iqd al-Farid, dimana nabi Daud AS memainkan mi’zaf alat music serupa harpa untuk menyaingi dukun-dukun Yahudi dalam menguasai alam gaib melalui music dan nyanyian, pemain musiknya disebut ‘azzaf.

Musik diterima dalam Islam disebut Handasah al-Sawt ialah seni yang dipandang sebagai pernyataan estetika yang bersumber dari tradisi Islam.

Handasah dalam sudut pandang sosiologi tiap Negara berbeda-beda, seperti kasidah di Indonesia, Ghazal di Iran, Nefes Sugul di Turki, Muwashshah Dini di Maroko, Nasyid Marawis di Asia Tenggara.

Handasah yang tunduk pada estetika Al-Quran seperti Tilawah dan Qira’ah.

Handasah yang berkaitan dengan seruan shalat dan ibadah, seperti adzan, tahmid, takbir.

Handasah yang berkaitan dengan pujian kepada Rasullulah seperti Kasidah Burdah, Kasidah Barzanji, Rampai Maulid.

Handasah yang berperanan dalam penyebaran agama Islam yaitu Shalawat Badar, Hikayat Perang Sabil. Penyebaran agama Islam di Jawa dengan menggunakan gending Jawa dengan gamelan sebagai instrumennya, dan wayang Jawa sebagai tokoh yang dapat diterima sangat mudah dikebudayaan Jawa disaat itu.

Musik adalah tajjarud, yang membebaskan jiwa dan perasaan, menyentuh kesedihan, kesenduan, dapat juga membangkitkan jiwa, membangkitkan rasa cinta dan kasih sayang, mengenang masa lalu, hal tersebut tidak dilarang dalam Islam, sehingga dalam ibadah wajibnya kita dapat menemukan kerileksan dan menemukan kebahagian sejati didalam hati, dan menemukan keindahan Allah SWT dalam ketenangan jiwa.