Selasa, 02 November 2010
Minggu, 31 Oktober 2010
Sabtu, 30 Oktober 2010
Jumat, 29 Oktober 2010
Kamis, 28 Oktober 2010
Selasa, 26 Oktober 2010
Jumat, 14 Mei 2010
TASAUF JAWA DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA ISLAM DI JAWA
Konsultan sosial ekonomi : Nurcahyo Juniarso.
Penyebaran agama Islam sangat berkembang baik di pulau Jawa, walau awal masuknya melalui Malaka, yaitu Aceh yang disebut juga ‘Serambi Mekah’. Namun dalam perjalanannya penyebaran agama Islam berkembang baik di pulau Jawa, terutama adanya wali songo.
Keunikan kepribadian orang-orang Jawa yang mampu menerima pendatang asing terutama para pedagang penyebar agama Islam, sehingga Islam mempunyai karakter tersendiri di pulau Jawa ini. Sifat orang Jawa yang seakan ‘nrimo’ , lugu, ramah, dan sopan, menjadikan Islam menjadi lebih lembut, dan dalam Islam di Jawa terdapat pengertian ‘MANUNGGALING KAWULA GUSTI’.
Kepasarahan dan ketidak beradaan manusia di alam fana ini meleburkan raga yang berat dan kotor ke dalam roh atau jiwa yang bersih.Penyesalan yang sangat karena dosa-dosa menciptakan tuntunan menyeluruh Allah seutuhnya, atas kepemilikan raga manusia tak terkecuali, inilah yang di sebut ‘Manunggaling’.
Ketidak berdayaan manusia akan kehendak, senantiasa meminta pertolongan Allah dalam peleburan diri dengan zat suci Allah di sebut ‘AKU’.
Ajaran pertama tentang zat dan singgasana Tuhan menjadi delapan bagian yaitu :
1. Adanya zat. Kekosongan alam ini yang ada hanya satu, ke-AKU-an Allah SWT.
2. Kejadian zat. Adanya zat kekal sebelum adanya manusia, hingga manusia terlahirkan ke dunia, sampai kematian, zat itu kekal.
3. Uraian tentang zat.
4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala Adam itu ada otak, dalam otak itu ada manic, dalam manic ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku.
5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram. Tempat itu berada di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati itu ada jantung, di dalam jantung ada budi, di dalam budi ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku.
6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas. Berada dalam kontol Adam, dalam kontol itu ada pringsilan (buah pelir), di dalam pringsilan itu ada nuthfah (mani), dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahsa, dalam rahsa itu ada Aku.
7. Peneguh Iman. Yaitu menjadi kekuatan iman.Yang berisikan Shahadat, pengakuan kerasulan Muhammad SAW, sebagai Nur Muhammad.
8. Kesaksian. Pada tingkat ini terjadi penyatuan raga dan roh, pengakuan terhadap roh yang berasal dari zat suci Allah.
Konsultan sosial ekonomi : Nurcahyo Juniarso.
Penyebaran agama Islam sangat berkembang baik di pulau Jawa, walau awal masuknya melalui Malaka, yaitu Aceh yang disebut juga ‘Serambi Mekah’. Namun dalam perjalanannya penyebaran agama Islam berkembang baik di pulau Jawa, terutama adanya wali songo.
Keunikan kepribadian orang-orang Jawa yang mampu menerima pendatang asing terutama para pedagang penyebar agama Islam, sehingga Islam mempunyai karakter tersendiri di pulau Jawa ini. Sifat orang Jawa yang seakan ‘nrimo’ , lugu, ramah, dan sopan, menjadikan Islam menjadi lebih lembut, dan dalam Islam di Jawa terdapat pengertian ‘MANUNGGALING KAWULA GUSTI’.
Kepasarahan dan ketidak beradaan manusia di alam fana ini meleburkan raga yang berat dan kotor ke dalam roh atau jiwa yang bersih.Penyesalan yang sangat karena dosa-dosa menciptakan tuntunan menyeluruh Allah seutuhnya, atas kepemilikan raga manusia tak terkecuali, inilah yang di sebut ‘Manunggaling’.
Ketidak berdayaan manusia akan kehendak, senantiasa meminta pertolongan Allah dalam peleburan diri dengan zat suci Allah di sebut ‘AKU’.
Ajaran pertama tentang zat dan singgasana Tuhan menjadi delapan bagian yaitu :
1. Adanya zat. Kekosongan alam ini yang ada hanya satu, ke-AKU-an Allah SWT.
2. Kejadian zat. Adanya zat kekal sebelum adanya manusia, hingga manusia terlahirkan ke dunia, sampai kematian, zat itu kekal.
3. Uraian tentang zat.
4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala Adam itu ada otak, dalam otak itu ada manic, dalam manic ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku.
5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram. Tempat itu berada di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati itu ada jantung, di dalam jantung ada budi, di dalam budi ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku.
6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas. Berada dalam kontol Adam, dalam kontol itu ada pringsilan (buah pelir), di dalam pringsilan itu ada nuthfah (mani), dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahsa, dalam rahsa itu ada Aku.
7. Peneguh Iman. Yaitu menjadi kekuatan iman.Yang berisikan Shahadat, pengakuan kerasulan Muhammad SAW, sebagai Nur Muhammad.
8. Kesaksian. Pada tingkat ini terjadi penyatuan raga dan roh, pengakuan terhadap roh yang berasal dari zat suci Allah.
Sabtu, 08 Mei 2010
TERAPI MUSIK BAGI UMAT ISLAM
Sesungguhnya Umat Islam telah diajarkan semenjak kecil dengan syair dan nyanyian yang indah seperti lantunan adzan di masjid-masjid dan bacaan Al-Quran.
Ketika menidurkan dan menimang anaknya umat Islam sering bersyair dan bernyanyi pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah, ‘Ya Rabbi yanam, Ya Rabbi yanaam’.
Ketika dalam keadaan bahagia, misalnya panen para petani juga bernyanyi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
Ketika bekerja keras dan mengangkat bahan bangunan yang berat umat Islam sering bernyanyi bersamaan untuk mengurangi beban berat, ‘Haila, Haila’.
Al-Mawaawil, alat music yang dipakai umat Islam untuk menghibur diri sendiri dan didengarkan dalam perkumpulan yang membicarakan tentang cinta, persahabatan, dan tentang dunia.
Diantara syair-syair itu juga berisikan perjuangan umat Islam yang sering diperdengarkan dan diulang-ulang di masyarakat, misalnya, Adham asy-Syarqawi, Syafiqah, Mutawalli, Ayyub al-Mishri, Sa’ad al-Yatim, dan Abu Zaid al-Hilali.
Disetiap bulan Ramadhan umat Islam menggunakan genderang untuk membangunkan sahur, dan saat takbiran menyambut hari raya.
Dalam upacara memanggil jin atau kekuatan gaib dalam kitab Iqd al-Farid, dimana nabi Daud AS memainkan mi’zaf alat music serupa harpa untuk menyaingi dukun-dukun Yahudi dalam menguasai alam gaib melalui music dan nyanyian, pemain musiknya disebut ‘azzaf.
Musik diterima dalam Islam disebut Handasah al-Sawt ialah seni yang dipandang sebagai pernyataan estetika yang bersumber dari tradisi Islam.
Handasah dalam sudut pandang sosiologi tiap Negara berbeda-beda, seperti kasidah di Indonesia, Ghazal di Iran, Nefes Sugul di Turki, Muwashshah Dini di Maroko, Nasyid Marawis di Asia Tenggara.
Handasah yang tunduk pada estetika Al-Quran seperti Tilawah dan Qira’ah.
Handasah yang berkaitan dengan seruan shalat dan ibadah, seperti adzan, tahmid, takbir.
Handasah yang berkaitan dengan pujian kepada Rasullulah seperti Kasidah Burdah, Kasidah Barzanji, Rampai Maulid.
Handasah yang berperanan dalam penyebaran agama Islam yaitu Shalawat Badar, Hikayat Perang Sabil. Penyebaran agama Islam di Jawa dengan menggunakan gending Jawa dengan gamelan sebagai instrumennya, dan wayang Jawa sebagai tokoh yang dapat diterima sangat mudah dikebudayaan Jawa disaat itu.
Musik adalah tajjarud, yang membebaskan jiwa dan perasaan, menyentuh kesedihan, kesenduan, dapat juga membangkitkan jiwa, membangkitkan rasa cinta dan kasih sayang, mengenang masa lalu, hal tersebut tidak dilarang dalam Islam, sehingga dalam ibadah wajibnya kita dapat menemukan kerileksan dan menemukan kebahagian sejati didalam hati, dan menemukan keindahan Allah SWT dalam ketenangan jiwa.
Sesungguhnya Umat Islam telah diajarkan semenjak kecil dengan syair dan nyanyian yang indah seperti lantunan adzan di masjid-masjid dan bacaan Al-Quran.
Ketika menidurkan dan menimang anaknya umat Islam sering bersyair dan bernyanyi pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah, ‘Ya Rabbi yanam, Ya Rabbi yanaam’.
Ketika dalam keadaan bahagia, misalnya panen para petani juga bernyanyi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
Ketika bekerja keras dan mengangkat bahan bangunan yang berat umat Islam sering bernyanyi bersamaan untuk mengurangi beban berat, ‘Haila, Haila’.
Al-Mawaawil, alat music yang dipakai umat Islam untuk menghibur diri sendiri dan didengarkan dalam perkumpulan yang membicarakan tentang cinta, persahabatan, dan tentang dunia.
Diantara syair-syair itu juga berisikan perjuangan umat Islam yang sering diperdengarkan dan diulang-ulang di masyarakat, misalnya, Adham asy-Syarqawi, Syafiqah, Mutawalli, Ayyub al-Mishri, Sa’ad al-Yatim, dan Abu Zaid al-Hilali.
Disetiap bulan Ramadhan umat Islam menggunakan genderang untuk membangunkan sahur, dan saat takbiran menyambut hari raya.
Dalam upacara memanggil jin atau kekuatan gaib dalam kitab Iqd al-Farid, dimana nabi Daud AS memainkan mi’zaf alat music serupa harpa untuk menyaingi dukun-dukun Yahudi dalam menguasai alam gaib melalui music dan nyanyian, pemain musiknya disebut ‘azzaf.
Musik diterima dalam Islam disebut Handasah al-Sawt ialah seni yang dipandang sebagai pernyataan estetika yang bersumber dari tradisi Islam.
Handasah dalam sudut pandang sosiologi tiap Negara berbeda-beda, seperti kasidah di Indonesia, Ghazal di Iran, Nefes Sugul di Turki, Muwashshah Dini di Maroko, Nasyid Marawis di Asia Tenggara.
Handasah yang tunduk pada estetika Al-Quran seperti Tilawah dan Qira’ah.
Handasah yang berkaitan dengan seruan shalat dan ibadah, seperti adzan, tahmid, takbir.
Handasah yang berkaitan dengan pujian kepada Rasullulah seperti Kasidah Burdah, Kasidah Barzanji, Rampai Maulid.
Handasah yang berperanan dalam penyebaran agama Islam yaitu Shalawat Badar, Hikayat Perang Sabil. Penyebaran agama Islam di Jawa dengan menggunakan gending Jawa dengan gamelan sebagai instrumennya, dan wayang Jawa sebagai tokoh yang dapat diterima sangat mudah dikebudayaan Jawa disaat itu.
Musik adalah tajjarud, yang membebaskan jiwa dan perasaan, menyentuh kesedihan, kesenduan, dapat juga membangkitkan jiwa, membangkitkan rasa cinta dan kasih sayang, mengenang masa lalu, hal tersebut tidak dilarang dalam Islam, sehingga dalam ibadah wajibnya kita dapat menemukan kerileksan dan menemukan kebahagian sejati didalam hati, dan menemukan keindahan Allah SWT dalam ketenangan jiwa.
Rabu, 21 April 2010
MEDITASI DAN YOGA DALAM TASAUF REIKI
Islam adalah agama rahmat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Misi penyelamat, rahmat, dan perdamaian (al-islam) bukan hanya untuk umat islam saja tetapi juga untuk sekalian alam.
Inilah makna islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Oleh karena itu, ilmu apapun yang memiliki misi rahmat dan penyebar kedamaian di dalam kehidupan ini, maka bersesuaian dengan misi islam.Rahmat dalam variannya adalah bagian penting dan sangat ditekankan dalam kosmologi islam.Reiki merupakan teknologi spiritual yang diketemukan jauh dari pasca kenabian, sebagaimana nuklir merupakan teknologi atom-material yang ditemukan era modern.
Reiki merupakan produk ijtihadi manusia sebagai khalifah fil ardl, reiki tidak dapat dinilai secara eksplisit dari keterangan-keterangan kitab suci, sebagaimana kitab suci tidak pernah membicarakan tentang nuklir.Ada beberapa argument yang dapat digunakan sebagai dasar nalar bahwa reiki tidak bertentangan dengan islam, yaitu :Islam sebagai agama rahmat akan membenarkan proses-proses ijtihadi (pengembangan dari daya nalar atau intuisi) manusia dalam mewujudkan manusia berkualitas yang sehat, baik secara fisik, psikis, mental maupun spiritual.
Energi reiki yang di salurkan praktisi, baik yang disalurkan kepada seseorang, binatang, tumbuhan, makanan, minuman, atau lokasi (ruangan) untuk mengusir energi negative dalam berbagai varian bentuknya, hanya akan mengalir dalam kepasrahan (kondisi tawakkal) kepada Allah SWT.
Reiki adalah energy Allah SWT dan Dia sendiri yang memiliki prakarsa di balik penyaluran energi.
Reiki yang muncul di Tibet dan menghilang, ditemukan kembali di Jepang. “Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina” pada ajaran nabi Muhammad di atas tidaklah salah untuk mempelajari ilmu reiki. Pada era nabi Muhammad, Cina memang mempunyai peradaban ilmu dan kebudayaan yang sangat tinggi, walau cina lebih banyak penduduknya yang non muslim, asalkan tujuannya sangat baik dan tidak merugikan siapapun, tidak akan bertentangan dengan islam.
Setiap praktisi reiki, senantiasa berdoa sebelum melakukan latihan-latihan, baik self healing, penyembuhan orang lain maupun ketika meditasi dan perlu diketahui shalat yang kusyuk merupakan meditasi terbaik.Doa adalah inti dari agama, doa merupakan hubungan special manusia dengan Tuhannya.
Reiki tidak lebih dari upaya spiritual mengakses energy alam yang disediakan Allah SWT, sebagaimana ilmuwan mengolah air sebagai unsure pembangkit tenaga listrik.
Praktik reiki tanpa menggunakan mantra, hanya kepasrahan total dan sikap rileks dalam penyaluran energy yang di punyai manusia menyatu dengan energy alam semesta, atas kehendak Allah SWT. Dengan hati yang bersih ringan dan tulus atas kehendak Allah SWT penyaluran energy akan terjadi.
Reiki masuk dalam tubuh praktisi melalui cakra mahkota, yaitu cakra yang sifatnya Ilahi dan menjadi pusat tubuh spiritual manusia. Energi alam yang masuk menyatu dalam energy positif manusia yang berpasrah menekan keluar kekuatan-kekuatan negative dari setan, jin jahat, sihir. Dari perspektif inilah maka praktek reiki sebagai praktik spiritual yang positif dan religius.Reiki mengajarkan untuk konsentrasi penuh atau dalam islam adalah kusyuk tuma’nina, dalam kesadaran penuh tanpa pengaruh pemikiran lain selain kepasrahan kepada sang pencipta atau Allah SWT.Diiringi zikir-zikir yang dilakukan apabila yang beragama muslim. Energi positif hanya dapat bersenyawa dengan energy yang sama. Energi alam positip akan bersenyawa dengan pemikiran manusia yang positif. Apabila di capai keberhasilan penyaluran enargi positif ini akan terjadi kenikmatan yang luar biasa.Penyakit merupakan energy negative, perlahan-lahan segala yang bermuatan negative akan tertekan keluar dari tubuh manusia, dan akan merasakan ketenangan secara menyeluruh lahir dan batin.Reiki akan meningkatkan keimanan. Keberhasilan penyaluran energy positif perlu latihan yang sering dan rutin dengan secara kuantitatif dan kualitatif berkomunikasi dengan Allah SWT.
Islam adalah agama rahmat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Misi penyelamat, rahmat, dan perdamaian (al-islam) bukan hanya untuk umat islam saja tetapi juga untuk sekalian alam.
Inilah makna islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Oleh karena itu, ilmu apapun yang memiliki misi rahmat dan penyebar kedamaian di dalam kehidupan ini, maka bersesuaian dengan misi islam.Rahmat dalam variannya adalah bagian penting dan sangat ditekankan dalam kosmologi islam.Reiki merupakan teknologi spiritual yang diketemukan jauh dari pasca kenabian, sebagaimana nuklir merupakan teknologi atom-material yang ditemukan era modern.
Reiki merupakan produk ijtihadi manusia sebagai khalifah fil ardl, reiki tidak dapat dinilai secara eksplisit dari keterangan-keterangan kitab suci, sebagaimana kitab suci tidak pernah membicarakan tentang nuklir.Ada beberapa argument yang dapat digunakan sebagai dasar nalar bahwa reiki tidak bertentangan dengan islam, yaitu :Islam sebagai agama rahmat akan membenarkan proses-proses ijtihadi (pengembangan dari daya nalar atau intuisi) manusia dalam mewujudkan manusia berkualitas yang sehat, baik secara fisik, psikis, mental maupun spiritual.
Energi reiki yang di salurkan praktisi, baik yang disalurkan kepada seseorang, binatang, tumbuhan, makanan, minuman, atau lokasi (ruangan) untuk mengusir energi negative dalam berbagai varian bentuknya, hanya akan mengalir dalam kepasrahan (kondisi tawakkal) kepada Allah SWT.
Reiki adalah energy Allah SWT dan Dia sendiri yang memiliki prakarsa di balik penyaluran energi.
Reiki yang muncul di Tibet dan menghilang, ditemukan kembali di Jepang. “Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina” pada ajaran nabi Muhammad di atas tidaklah salah untuk mempelajari ilmu reiki. Pada era nabi Muhammad, Cina memang mempunyai peradaban ilmu dan kebudayaan yang sangat tinggi, walau cina lebih banyak penduduknya yang non muslim, asalkan tujuannya sangat baik dan tidak merugikan siapapun, tidak akan bertentangan dengan islam.
Setiap praktisi reiki, senantiasa berdoa sebelum melakukan latihan-latihan, baik self healing, penyembuhan orang lain maupun ketika meditasi dan perlu diketahui shalat yang kusyuk merupakan meditasi terbaik.Doa adalah inti dari agama, doa merupakan hubungan special manusia dengan Tuhannya.
Reiki tidak lebih dari upaya spiritual mengakses energy alam yang disediakan Allah SWT, sebagaimana ilmuwan mengolah air sebagai unsure pembangkit tenaga listrik.
Praktik reiki tanpa menggunakan mantra, hanya kepasrahan total dan sikap rileks dalam penyaluran energy yang di punyai manusia menyatu dengan energy alam semesta, atas kehendak Allah SWT. Dengan hati yang bersih ringan dan tulus atas kehendak Allah SWT penyaluran energy akan terjadi.
Reiki masuk dalam tubuh praktisi melalui cakra mahkota, yaitu cakra yang sifatnya Ilahi dan menjadi pusat tubuh spiritual manusia. Energi alam yang masuk menyatu dalam energy positif manusia yang berpasrah menekan keluar kekuatan-kekuatan negative dari setan, jin jahat, sihir. Dari perspektif inilah maka praktek reiki sebagai praktik spiritual yang positif dan religius.Reiki mengajarkan untuk konsentrasi penuh atau dalam islam adalah kusyuk tuma’nina, dalam kesadaran penuh tanpa pengaruh pemikiran lain selain kepasrahan kepada sang pencipta atau Allah SWT.Diiringi zikir-zikir yang dilakukan apabila yang beragama muslim. Energi positif hanya dapat bersenyawa dengan energy yang sama. Energi alam positip akan bersenyawa dengan pemikiran manusia yang positif. Apabila di capai keberhasilan penyaluran enargi positif ini akan terjadi kenikmatan yang luar biasa.Penyakit merupakan energy negative, perlahan-lahan segala yang bermuatan negative akan tertekan keluar dari tubuh manusia, dan akan merasakan ketenangan secara menyeluruh lahir dan batin.Reiki akan meningkatkan keimanan. Keberhasilan penyaluran energy positif perlu latihan yang sering dan rutin dengan secara kuantitatif dan kualitatif berkomunikasi dengan Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)
