MENGATASI KONFLIK RUMAH TANGGA
Dalam berkeluarga tidak mungkin berjalan selalu selaras, terkadang terjadi konflik yang harus dihadapi, dalam menghadapi konflik keluarga maka yang diperlukan adalah :
Saat pernikahan telah terikrarkan maka terikrar pula bahwa tidak ada kata perceraian apapun yang terjadi. Hanya maut dan tuhan yang mampu memisahkan ikrar cinta bersama.
Mengatasi segala konflik keluarga bersamaan, dengan komunikasi yang halus dewasa, kalau perlu dibutuhkan orang ketiga yang diluar keluarga kedua belah pihak untuk menengahinya, tanpa memihak keduanya.Misalnya : sudah bertahun-tahun kedua pasangan tidak diberikan keturunan, maka tidak ada alasan saling menyalahkan salah satu pasangan, di dunia ini tidak ada yang sempurna, oleh karena itu adanya anak yatim piatu yang perlu kita santuni dan kita anggap sebagai anak.
Mengatasi permasalahan keluarga bersamaan,misalnya permasalahan keuangan, permasalahan anak, permasalahan orang tua, dan lain-lainnya, menjadi satu team yang kompak.
Memupuk cinta dengan kemesraan, kebersamaan dengan anak, dan lingkungan sekitarnya.
Menjadikan orang tua pasangan kita menjadi orang tua bersama, saling menghormati, saling membantu, menjalin silaturahmi yang terus berkembang menjadi keluarga besar yang rukun dan bahagia.Pernikahan bukan saja menyatukan dua orang saja tetapi menyatukan kedua keluarga besar, kita harus menyadari bahwa pasangan kita dibesarkan dari lingkungan keluarga yang berbeda dengan kita, maka perlu adanya penghormatan dan kasih sayang seluas-luasnya untuk hal ini.Apalagi bila kita menikahi anak tunggal,kita harus menyadari perasaan orang tua yang kehilangan anak tunggalnya, walaupun tidak ditinggal selamanya, akan cukup berat meninggalkan ikut campur orang tua, karena itu kasih sayang kita harus seluas-luasnya, perubahan kebaikan harus di awali dari diri sendiri.
Meningkatkan hubungan intim penuh cinta, saling menghormati kekurangan masing-masing, saling memaafkan, saling mendukung, dan tidak enggan untuk memuji, memanggil dengan kata-kata sayang yang indah. Tidak langsung membersihkan diri setelah berhubungan intim apalagi cepat-cepat kekamar mandi dan segera tidur, tetapi menjadikan komunikasi mesra setelah berhubungan intim, walau masing-masing belum mengenakan pakaian tapi masih tertutup selimut bersama sambil bermesraan.
Memupuk kedalaman beragama, dengan shalat bersama, makan bersama, mengaji bersama, membaca buku-buku agama bersama dan membahas permasalahan dalam kehidupan secara demokratis.
Mengulang saat romantic yang pernah dilalui berdua, makan bersama dengan anak dan pasangan di restoran yang penuh kenangan, makan malam dirumah dengan berhiaskan lilin-lilin, makan bersama disaat liburan dihalaman rumah. Merayakan ulang tahun masing-masing pasangan, merayakan hari pernikahan dengan hadiah yang romantic walau tidak mahal. Merencanakan berlibur panjang bersama keluarga keluar kota.
Melihat film romantic ataupun film-film seks berdua didalam kamar saat memulai hubungan intim, berdua.
Berjalan berdua di malam terang bulan, menikmati bulan dan bintang, melewati jalan-jalan kecil yang sepi, untuk membuat kenangan indah saat berduaan.
Bersepeda di pagi hari, bukan dihari libur, tapi saat ingin memulai aktifitas lainnya, atau setelah shalat shubuh.
Jadikanlah pasangan hidup kita teman dan sahabat yang menyenangkan hati dan bukan merupakan beban hidup.
Senin, 28 Desember 2009
MENGATASI KONFLIK KEMISKINAN DALAM MASYARAKAT
Mengatasi konflik kemiskinan dalam masyarakat merupakan suatu proses pembelajaran bagi masyarakat untuk merubah pola pikir dan mengolah semaksimal mungkin ketrampilan yang dimiliki suatu masyarakat miskin agar lebih mandiri dan sejahtera.
Yang pertama diatasi dalam masyarakat miskin adalah merasa miskin dan terus meminta keadilan bagi masyarakat yang dianggap kaya, penyadaran diri inilah yang perlu proses panjang dan pebelajaran pola fikir dan sikap.
Setelah kepribadian mereka berkembang maju, maka kita ikuti dengan memberikan ketrampilan sesuai hobby mereka dan keadaan sekitar lingkungan hidup mereka.
Memberi pelajaran kepada mereka untuk berkumpul membentuk suatu organisasi yang terkoordinir baik dan tersistem.
Menciptakan masyarakat sekitarnya untuk mendukung organisasi yang mereka bentuk, memberikan kepercayaan pada mereka untuk membuat suatu usaha bersama, memberikan kesempatan untuk mereka bergerak maju dalam suatu usaha kecil yang mereka dirikan.
Setelah organisasi terbentuk dan mempunyai system management yang baik, mereka membutuhkan pendamping dalam mengembangkan usahanya, pendamping mereka bisa dari pemberi modal usaha atau swadaya masyarakat sekitarnya untuk mengentaskan kemiskinan.
Seorang pendamping usaha mereka dapat memberikan :
Fasilitator yang mampu menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan berkembangnya kegiatan usaha.
Motivator sebagai pengarah usaha dan mengarahkan potensi perorangan untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Penghubung berfungsi sebagai penghubung antara pengusaha yang sudah besar untuk dapat bekerjasama dengan usaha mereka yang baru dibentuk, terutama dalam hal distribusi bahan, alat, dan pemasaran produk.
Wahana pemberdayaan dari seorang pendamping adalah memberikan pengalamannya dalam berorganisasi, pemilihan seorang pemimpin, perekrutan tenaga kerja, pelatihan untuk memaksimalkan keterampilan dan berjalannya suatu usaha.
Administrasi, pencatatan surat jual beli dan inventaris kantor.
Modal, merupakan dana awal perwujudan suatu produk dan proses produksi.
Usaha yang produktif, diusahaan usaha mampu mendapat keuntungan yang diperhitungkan secara sistematik dan dapat dijangkau oleh konsumen sekitarnya.
Akseptasi, diusahakan kesejahteraan organisasi dapat mensejahterakan masyarakat miskin dan menaikkan taraf hidup keluarga agar hidup sejahtera.
Berkelanjutan, agar usaha terus berkembang secara positif dan terus menerus mendapatkan keuntungan untuk menghidupkan masyarakat miskin mentas dari kemiskinan dan hidup sejahtera.
Langganan:
Komentar (Atom)
